Hmmm.... rasanya udah lumayan lama ngga posting ya.... Baiklah, ada beberapa alasan yang bisa saya sampaikan kepada pemirsa sekalian kenapa saya jarang posting. Dengan mengingat, menimbang, dan memperhatikan beberapa hal mana berikut saya sampaikan alasan-alasannya : Pertama , menyesuaikan sub judul blog, "hanya sebuah ode pengusir sepiku", karena akhir-akhir ini saya sering ditemani oleh seseorang yang mana mampu membuat diri saya sementara tidak merasa kesepian, oleh karena alasan itu saya "simpan" dulu bloggingnya...hehehehe... Kedua , saya tidak ingin merusak moment liburan semester. (halah...sok-sokan...) Ketiga , karena selama liburan di kampung halaman, tidak ada jaringan internet. Kalaupun ingin berinternet ria maka dibutuhkan perjuangan lebih untuk mencapai tempatnya (warnet.red). hohohoho... Keempat , yaitu karena komputer saya rusak!!! Dan selama penulisan postingan ini saya meminjam lepi teman sebelah. V.V Demikia pemberitahuan ini saya sampaiakan, ...
Puncak Gede, 27 April 2012 2958 mdpl. Pagi mengendapkan sepi, udara berselimut dingin, butir-butir embun terakumulasi pada pucuk-pucuk daun lalu jatuh bebas di atas tanah. Sebuah suara dari balik tenda samar terdengar, pukul 4.30 pagi, bang Aji, salah seorang teman asal Jakarta yang ikut rombongan kami sudah menyalakan kompor untuk memasak air. Saya terbangun seiring suara yang semakin lama semakin jelas terdengar di telinga, udara terasa begitu dingin menusuk kulit. Bang Aji menyodorkan secangkir kopi full cream untuk saya, satu dua kali sruputan, kehangatan begitu terasa mengalir turun dari kerongkongan hingga terendap di perut. Berada di ketinggian 2400 meter sepagi ini tak terbayang bagaimana dinginnya mata air sumber satu-satunya yang ada di tempat ini. Ya, disini terdapat satu sumber air yang biasa digunakan oleh para pendaki untuk memasak ataupun mengisi kembali botol air mereka. Tanpa harus repot merebusnya, air dari mata air ini bisa langsung di minum karena setidaknya ...
Seekor kuda unggulan jenis Lusiano tampak berlari santai menelusuri jalan setapak. Postur tubuhnya yang tegap dan langsing menjadikannya begitu ringan dan mantap ketika berlari. Nyaris, tak satu pun hewan di kawasan hutan lindung itu yang mampu menandingi larinya. Setiap kali ada kuda-kuda lain yang tampak berlari, Lusiano selalu memacu larinya untuk bisa sejajar. Ia pun menoleh ke arah kuda itu dan mengajaknya untuk berlomba. Tapi, tak satu pun yang tertarik. Soalnya, ujungnya selalu sama: kalah. Yang menyakitkan dari kekalahan oleh Lusiano , bukan pada kalahnya. Tapi, dari kesombongan Lusiano yang begitu menyakitkan lawan. ” Payah, lari kok mundur! ” ucap Lusiano sambil tertawa. Suatu kali, Lusiano melalui seekor kuda tua yang tampak berlari lambat dari arah yang berlawanan. Ia pun menghentikan larinya ketika Lusiano tiba-tiba memalangi jalan dengan tubuhnya yang tegap. ” Ada apa, Lusiano? ” ucap si kuda tua dengan tetap menampakkan wajah tenang. ” Hei, Kakek. Apa kau tah...
fif gw mau follow blog lw kga bisa dah.. -___- ajarin blog dong fif.. haha
BalasHapussekarang udah bisa rin, kemarin emang gak aku appear.
BalasHapusbelajar autodidak rin, serching2 kn banyak tuh.
yang penting kan isinya...
syukron buat kisah2nya bang roni, setidaknya pantas untuk mem-bokmark-nya,menjdikannya pengisi malam sampai terpejam.
BalasHapuswaiyakum om,
BalasHapussaya hanya menulis apa yang ingin saya tulis,
syukur tulisan saya bisa bermanfaat untuk yg lain.