Jujur?
Suatu ketika aku pernah di tanya oleh salah seorang teman kuliah. Awalnya kita ngobrol layaknya mahasiswa, mengenai berbagai macam urusan ini itu, matakuliah, tugas, dan organisasi. Sampai pada satu kesempatan dia mengutarakan keluh kesahnya akhir-akhir ini, lingkup perbincangan kami menjadi lebih sempit yaitu mengenai hasil ujian semester ini. Dia mengeluhkan mengenai hasil dari apa yang telah dia perjuangkan selama dua minggu masa ujian akhir semester. Raut wajahnya dihiasi rasa penyesalan dan kesal, sepengetahuanku baru kali ini dia bermuka masam.
Dia mulai bercerita padaku, lebih tepatnya mengeluh. Ada beban dalam diri yang membuatnya merasa malu dengan teman-temannya, dia merasa tidak cukup percaya diri sebagai pengemban organisasi yang sekarang ia pimpin. Hasil ujian akhir semester tidak sesuai harapan, sementara telah banyak yang ia korbankan untuk itu, menambah porsi belajarnya, membeli buku-buku suplement, sampai ia pelajari betul soal-soal ujian tahun lalu. Itu alasan yang ia kemukakan. Aku tersenyum simpul, mencoba memahami perasaanya. Tampaknya dia masih belum bisa menerima kenyataan yang ada, perasaanya kesal dan putus asa. Lantas aku berusaha menenangkannya, memberinya nasehat-nasehat yang secara sadar aku sendiri butuh nasehat itu. Bahwa aku pun tak jauh berbeda darinya.
Sampai pada giliranku untuk bertanya, tentang kejujuran. Aku bertanya apakah dia mengerjakan dengan jujur atau mengikuti arus pada saat itu, dia jawab dia lebih memilih jujur. Baiklah, kalau begitu tak ada yang perlu disesali lagi karena urusanmu sudah selesai, sudah final, aku mengatakan demikian. Sementara yang lain biarlah dengan urusan mereka sendiri, bersikap lapang dada akan lebih cepat menghapus rasa penyesalan kita. Janganlah membandingkan hasil yang kau terima atas dasar kejujuranmu sendiri dengan mereka yang masih perlu dipertanyakan. Maka bandingkanlah dengan dirimu sendiri.
Seringkali idealisme kejujuran yang kita pegang sama sekali tidak menampakkan hasil riil sebagaimana yang kita harapkan. Kejujuran masih kalah dengan antonim nya, terutama dalam hal kompetisi prestasi di kampus. Kenyataan ini tak jarang menggoyahkan idealisme yang kita pegang. Mulai mengikuti arus adalah hal yang tak jarang menjadikan kita kehilangan sebuah idealisme. Menjualnya demi mendapatkan hasil yang diinginkan sama halnya menggergaji kaki kursi yang kita duduki. Orang-orang seperti ini menganggap bahwa tujuan akhir dapat ditoleransi dengan jalan pintas. Boleh jadi paradigma inilah yang sampai sekarang dipegang oleh para pelaku korupsi. Korupsi tidak saja dilakukan oleh mereka yang menduduki jabatan penting, melainkan siapa saja orangnya dan apapun profesinya.
Hasil ujian hanyalah sebagian kecil dari proses panjang, dan bagaimana kita memilih cara untuk mendapatkannya merupakan hal terpenting dari semua itu. Kegagalan, penyesalan, kekecewaan, bukanlah sesuatu yang harus disalahkan karena ini bukanlah akhir dari segalanya. Idealisme dalam dirilah yang nantinya akan menjawab rasa sesal dan kekecewaan ini.
Senyumnya mulai mengembang, dia menarik nafas panjang dan perasaan lega mulai muncul di benaknya. Satu pertanyaan akhir yang dia sampaikan sebelum mengakhiri percakapan kita,
"Lha kamu sendiri jujur apa enggak? Jangan-jangan cuma bisa ngomong doank?"
"Kalo itu biar Tuhan saja yang tahu", jawabku. :D
Komentar
Posting Komentar
Boleh berkomentar... :)