AKU INGIN

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana

dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada


* ahhhh......, luluh aku membacanya.....
kalau saja aku asli Jakarta mungkin akan bilang, "gila...tw ga loe, itu gue bangeeettt.....", dengan logat Jakartanya....hhahaha.... (lebay)....


Mungkin dulu pas lagi nyiptain ini puisi, pakdhe Sapardi mengalami perasaan yang sama seperti aku sekarang... (dengan sedikit mengharap pakdhe mau menerima alasanku ini, hehe). Entah kenapa sederet puisi tersebut sangat mewakili keberadaanku yang sedikit tertutup ini dalam mengungkapkan perasaannya kepada yang lain (perempuan).


"tenanglah nak Afif, pakdhe bersedia mengangkatmu menjadi anak asuh, nak Afif bersedia kan?"
"ah yang boneng pakdhe?"
"yang boneng siapa maksud nak afif, bukannya boneng sudah tidak eksis lagi di dunia perfilman indonesia ya?"
"hehe...maksud saya yang bener begitu pakdhe..."
"owhh, dasar anak jaman sekarang, ga kaya anak dulu...hmmm"
"iya donk pakdhe, sekarang kan jamannya cendol sama bata...."
"apaan lagi itu cendol sama bata?"
"ahh pakdhe ketahuan bukan kaskuser nih....hhehehe"
"hmm....", muka pakdhe berubah garang.
"maaf pakdhe kalo saya jadi ngelantur gini, habisnya msh blm percaya dengan ini semua, sekarang serius pakhe..."
"baiklah..."


Cukup sekian percakapan khayalan tingkat tinggi ini, maaf kalau agak banyak sedikit geje. Ke'geje'an ini bukan tanpa sebab, ada hal yang sulit dijelaskan ketika aku mendalami puisi pakdhe Sapardi tersebut.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan

Garis

Menyapa Gede-Pangrango (catper part 3)