Kain di genggaman tangan

      Dengan tubuh lelah dan pandangan mata yang mulai sayup karena aktifitas seharian tadi, akan aku mulai baris-baris kata ini. Sebenarnya sedikit disertai rasa malas untuk memulai kembali hal ini karena sudah terlalu lama jari-jemari ini tidak lagi akrab dengan barisan tuts berlabel huruf yang beralaskan sebuah papan hitam, namun dari pada kubiarkan dia terus diam ditempatnya lebih baik aku coba menyapanya kembali, sambil mengoneksikan apa yang ada dipikiran dengan tangan ini, siapa tahu akan mewujudkan sebuah baris-baris kata yang termaknai.

      Hari ini, sama halnya dengan hari -hari biasanya, hampir tidak ada moment yang luar biasa, layaknya seorang mahasiswa kebanyakan, kuliah pagi sampai pertengahan hari, lalu mulai lagi nanti sore sampai menjelang waktu maghrib. Waktu luang hanya diisi oleh aktifitas yang tidak begitu padat tidak seperti mereka para aktifis kampus yang hampir tidak ada waktu luang sedetikpun. Berjalan menyisir sebuah selokan yang menjadi urat nadi kehidupan warga Jogja disetiap hilir-mudikku dari rumah kontrakan menuju kampus. Mulai dari lapak-lapak sampai pertokoan berjajar berderet layaknya barisan lampu jalan yang berpendar di malam hari mengisyaratkan kemeriahan tata letak kota ditepian selokan.
     Sesaat lajuku terhenti disebuah persimpangan, dengan lampu rona merah berpendar terang meyakinkan para pengguna jalan untuk berhenti menunggu giliran pengguna jalan lain lewat dari sisi lain. Aku menikmatinya, dengan melepaskan pandangan mata yang kian kemari memandang berbagai perspektif penciptaan, mencari-cari objek menarik yang tentunya bisa menghibur hati. Beberapa detik sebelum rona merah tadi berubah warna, pandanganku terfokus pada satu rupa. Ya, seorang anak yang menurut perkiraanku baru berumur 10 tahunan tengah duduk melamun di tepian jalan persis dibawah tiang lampu lalu lintas. Tampak memakai sepasang sendal jepit usang dan pakaian yang ala kadarnya, serta sebuah kain digenggamannya. Raut muka sedih dan bimbang yang aku tangkap dari ekspresi wajah kurusnya. Tanpa pempedulikan orang lain yang antusian memperhatikan dirinya, dia tetap saja asyik dengan lamunannya. Entah apa yang sedang dia lamunkan tak ada satu orangpun yang tahu. Dan mungkin hanya aku, dengan segelintir para pengguna jalan, yang mencoba menafsirkan. Memerintahkan otak untuk membuka teka-teki lamunannya. Namun, lampu hijau kini telah menyala, mengisyaratkanku serta para pengguna lain untuk melanjutkan perjalanannya. Sampai pada lampu kembali merah, aku telah jauh dari tempat itu, dan penafsiranku tentang anak tadi perlahan hilang tertutupi oleh angin jalanan.

  ****

      Dosen menutup mata kuliah untuk hari ini, aku beserta teman yang lain satu persatu keluar dari pintu kaca, memunculkan wajah lesu karena energy telah banyak terkuras. Tanpa membuang banyak waktu satu persatu dari kita langsung menuju kediaman masing-masing mengingat langit senja kian menyapa. Dan dalam perjalananku aku kembali berpapasan dengan simpang yang tadi namun kali ini aku berada pada sisi yang berlawanan. Ah, aku kembali teringat tentang anak kecil itu, kucari-cari lagi keberadaannya, dan tampak dari kejauhan anak itu masih terduduk ditempat yang sama. Beberapa saat kemudian, dia berdiri dari duduknya dan mengelus2kan kain yang digenggamannya tadi kekendaraan para pengguna jalan. Aneh, awalnya aku pikir ini adalah sebuah fasilitas cuma – cuma, tapi penafsiranku gugur oleh acungan tangan setelahnya, meminta uang untuk jasa yang telah dia berikan.

      Sekarang aku tahu dan baru menyadari banyak hal darinya, dan tentu dari masing-masing kita dapat mengambil pelajaran yang berbeda. Pelajaran untuk hidup kearah yang lebih baik yang semestinya kita temui. Di tengah kesibukan diri kita, sebenarnya ada banyak hal kecil dan menarik yang dapat menjadi acuan hidup jika kita bisa mengkajinya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Alasan

Garis

Menyapa Gede-Pangrango (catper part 3)