Postingan

Menampilkan postingan dengan label Renungan Diri

1/4 Abad Lebih

Saya rasa, seperempat abad lebih adalah waktu yang cukup. Cukup untuk melakukan segala macam tindakan tidak bermanfaat. Cukup untuk berfikir bahwa dengan uang sendiri bisa bersenang-senang sepuas hati. Cukup untuk mementingkan ego pribadi daripada peduli terhadap orang lain. Saya rasa, seperempat abad lebih adalah waktu yang lebih. Lebih untuk mengucap syukur atas apa yang Allah berikan. Lebih untuk fokus merealisasikan rencana-rencana masa depan. Lebih untuk memperdalam ilmu-ilmu agama. Saya rasa, seperempat abad lebih adalah saatnya. Saatnya untuk melangkah pada fase hidup selanjutnya. Saatnya untuk bersikap legowo dengan kenyataan-kenyataan hidup. Saatnya untuk memberikan manfaat bagi sesama makhluk. Karena saya rasa, seperempat abad lebih adalah usia yang tak lagi muda.  Sadar ataupun tidak sadar, menerima ataupun tidak menerima, itulah kenyataan. Maka, saya harus memilih diantara kepastian-kepastian.

Kadang memang harus demikian

Kadang kamu harus tegar menghadapi persoalan,  meski hanya pura-pura,  agar di mata orang lain terlihat tidak sedang terjadi apa-apa. Kadang kamu harus bersikap tenang menerima keadaan,  meski hanya pura-pura,  agar orang lain tidak menilai kamu cengeng. Kadang kamu harus terus bersabar,  meski hanya kata menyerah yang ada di kepala,  agar orang lain menilai kamu bukan orang yang lemah. Kadang kamu harus tetap tersenyum,  meski hatimu getir,  agar orang lain melihat tidak ada masalah yang sedang dipikirkan. Kadang kamu harus demikian,  karena pundakmu harus tetap tegak berdiri meski tanpa penguat. Memang kamu harus demikian,  karena kamu laki-laki.   
Gambar
“Jempol selalu terlihat paling besar, Telunjuk paling banyak memiliki fungsi, Jari tengah selalu lebih tinggi, Jari manis, entah kenapa disebut manis, kemudian menjadi tempat untuk mengenakan cincin. Kelingking, paling kecil dan lemah, namun dia membuat jari-jari yang lain benar adanya.” Bahkan ketika kita menjadi paling kecil dan lemah, Tuhan memberikan adil-Nya sebagaimana yang lain. Benar. Tidak ada yang sia-sia pada setiap nikmat dan ciptaNya.  Untuk menjadi dewasa, tidak harus melakukan hal-hal yang besar, namun mensyukuri setiap nikmat yang Dia berikan mulai dari hal yang kecil.  "memetik" Purnama di bulan Sa'ban 1433 H

Renungan

Rasulullah SAW bersabda kepada menantunya, Ali r.a. , " Wahai ‘Ali, setiap sesuatu pasti ada penyakitnya. penyakit bicara adalah bohong, penyakit ilmu adalah lupa, penyakit ibadah adalah riya’, penyakit akhlaq mulia adalah kagum kepada diri sendiri, penyakit berani adalah menyerang, penyakit dermawan adalah mengungkap pemberian, penyakit tampan adalah sombong, penyakit bangsawan adalah membanggakan diri , penyakit malu adalah lemah, penyakit mulia adalah menyombongkan diri , penyakit kaya adalah kikir, penyakit royal adalah hidup mewah, dan penyakit agama adalah nafsu yang diperturutkan…."  Ketika berwasiat kepada ‘Ali bin Abi Thalib r.a. Rasulullah SAW bersabda, "Wahai ‘Ali, orang yang riya’ itu punya tiga ciri, yaitu : rajin beribadah ketika dilihat orang, malas ketika sendirian dan ingin mendapat pujian dalam segala perkara. "  Wahai ‘Ali, jika engkau dipuji orang, maka berdo’alah, " Ya Allah, jadi...

Danau

Tiga ekor beruang kecil tampak berkumpul di depan ibu mereka. Beruang kakak beradik ini begitu asyik mendengarkan kata-kata wasiat yang disampaikan induk beruang yang mulai tampak tua. ”Anak-anakku, kini saatnya untuk kalian belajar tentang hidup. Tapi, ibu tidak bisa lagi menemani kalian. Ibu yakin, kalian sudah bisa membedakan, mana yang baik dan yang buruk,” jelas induk beruang di hadapan ketiga anaknya. ”Kira-kira, kemana kami bisa belajar tentang hidup, Bu?” tanya salah satu anak beruang. ”Kalian bisa pergi ke lembah hijau yang bersebelahan dengan hutan ini. Tapi...,” suara induk beruang terhenti. ”Tapi apa, Bu?” sergah si sulung kemudian. ”Kalian harus hati-hati, di sana ada danau yang punya pengaruh buruk. Jangan sekali-kali merasa nyaman di sana,” ungkap sang induk begitu serius. Selepas perpisahan, ketiganya pun berangkat. Dari kejauhan, sang induk hanya mampu melambaikan tangan demi memunculkan kemandirian tiga puteranya. Berbagai hal di perjalanan mereka alami. Mulai ...

Garis

Gambar
Seekor kuda unggulan jenis Lusiano tampak berlari santai menelusuri jalan setapak. Postur tubuhnya yang tegap dan langsing menjadikannya begitu ringan dan mantap ketika berlari. Nyaris, tak satu pun hewan di kawasan hutan lindung itu yang mampu menandingi larinya. Setiap kali ada kuda-kuda lain yang tampak berlari, Lusiano selalu memacu larinya untuk bisa sejajar. Ia pun menoleh ke arah kuda itu dan mengajaknya untuk berlomba. Tapi, tak satu pun yang tertarik. Soalnya, ujungnya selalu sama: kalah. Yang menyakitkan dari kekalahan oleh Lusiano , bukan pada kalahnya. Tapi, dari kesombongan Lusiano yang begitu menyakitkan lawan. ” Payah, lari kok mundur! ” ucap Lusiano sambil tertawa. Suatu kali, Lusiano melalui seekor kuda tua yang tampak berlari lambat dari arah yang berlawanan. Ia pun menghentikan larinya ketika Lusiano tiba-tiba memalangi jalan dengan tubuhnya yang tegap. ” Ada apa, Lusiano? ” ucap si kuda tua dengan tetap menampakkan wajah tenang. ” Hei, Kakek. Apa kau tah...
Gambar
....ya Rabb, ampunilah hambaMu ini hamba yang tak pernah bersyukur atas segala nikmatMu hamba yang selalu saja berbuat kemaksiatan hamba yang tak pernah mau belajar tentang ilmuMu ....ya Rabb, tak ada gunanya aku hidup jikalau semua yang aku lakukan selalu menyimpang dari syariatMu tak ada artinya aku hidup jikalau apa yang aku lakukan selalu menyakiti makhluk-makhlukMu jikalau aku tak ubahnya seperti binatang ....ya Allah, tunjukkan jalanMu yang pernah aku temui dulu aku telah terlalu jauh dari kebenaranMu ingatkanlah aku agar aku sadar akan dosa2ku ya Yabb, aku inginkan itu .....biarlah ku pikul semua dosa2ku sendiri walau itu perih